Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya, Jawa Barat, menetapkan siaga penuh menghadapi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, banjir rob, pergerakan tanah, hingga gempa bumi.
Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya intensitas hujan dan kondisi tanah yang labil di sejumlah wilayah sepanjang tahun 2025.
“Bencana hidrometeorologi menjadi perhatian utama. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan harus lebih ditingkatkan kembali, karena bencana ini dapat menyebabkan banjir, longsor, pohon tumbang, hingga gempa bumi,” ujar Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, Jumat (7/11/2025).
Asep mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 telah tercatat lebih dari 400 titik kejadian bencana alam di Kabupaten Tasikmalaya.
Daerah ini bahkan masuk dalam tiga wilayah dengan curah hujan tertinggi di Jawa Barat, membuat risiko longsor dan banjir semakin besar.
🌧️ Rawan Longsor di 13 Kecamatan
Menurut Asep, kondisi kontur tanah labil memperburuk potensi bencana, terutama di kawasan perbukitan dan aliran sungai.
Sejumlah wilayah yang masuk zona merah rawan longsor dan banjir meliputi Cigalontang, Cipatujah, Salopa, Sodonghilir, Puspahiang, Salawu, Gunungtanjung, Bojonggambir, Taraju, Culamega, Karangnunggal, Pageurageung, dan Kadipaten.
“Masih banyak bangunan berdiri di zona merah. Masyarakat di wilayah rawan harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, apalagi saat curah hujan tinggi,” tegas Asep.
🚨 Koordinasi dan Kesiapan BPBD
Asep menjelaskan, Pemkab Tasikmalaya kini memperkuat koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, BPBD, Tagana, serta 351 desa siaga bencana untuk menghadapi potensi bencana di musim hujan ini.
Langkah ini dilakukan agar penanganan bencana bisa berlangsung terencana, terpadu, dan menyeluruh.
Selain itu, BMKG memprediksi curah hujan tinggi akan terus terjadi hingga Januari 2026, sehingga pemerintah meminta masyarakat untuk mengantisipasi kemungkinan banjir dan pergerakan tanah di daerah perbukitan.
🧭 Ajak Warga Waspada dan Siap Evakuasi
Pemerintah daerah juga mengimbau agar warga tidak menyepelekan peringatan dini cuaca ekstrem, terutama yang tinggal di sekitar lereng dan bantaran sungai.
“Hujan deras yang terjadi selama ini harus diwaspadai, terutama luapan sungai dan potensi longsor. Semua pihak harus siap melakukan penanganan secara cepat dan terkoordinasi,” pungkas Asep. Dikutip dari metrotvnews.com
