JAKARTA – Eks Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Fanta Prabowo–Gibran sekaligus politisi Partai Golkar, Arief Rosyid Hasan, angkat bicara membela Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di tengah berbagai isu yang beredar belakangan ini.
Arief yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) menilai, kedekatan Bahlil dengan Presiden Prabowo Subianto justru menjadi kekuatan penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan.
Menurutnya, berbagai isu yang diarahkan kepada Bahlil tidak memiliki makna signifikan jika melihat peran strategis yang dijalankan Menteri ESDM tersebut.“Pak Bahlil itu dekat sekali dengan Presiden. Menurut saya, isu-isu di luar sana ya enggak ada artinya,” ujar Arief saat berbincang dengan Tribun di sela sebuah acara di Majalengka, Senin (5/1/2026).
Arief bahkan menyebut Bahlil sebagai sosok “benteng Presiden” yang menjaga kuatnya relasi antara kepala negara dan jajaran kabinet.
“Yang dilakukan Bahlil ini adalah menjaga Presiden. Dia benteng bagaimana eratnya relasi Presiden dan beliau. Sehari bisa tiga kali ketemu Presiden,” ungkap Arief yang juga dikenal sebagai orang dekat Bahlil.
Ia menambahkan, Bahlil menjadi salah satu menteri yang memiliki akses komunikasi langsung dengan Presiden Prabowo.“Kalau beliau telepon Presiden, mungkin satu-satunya menteri yang bisa langsung manggil ‘Kanda Presiden’ ya Bahlil ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Sapaan “Kanda” atau “Kakanda” sendiri dikenal sebagai panggilan akrab dan hormat yang lazim digunakan di kalangan aktivis, khususnya dalam tradisi organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Meski memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan, Arief menegaskan Bahlil tetap hidup sederhana dan tidak berubah secara pribadi.“Apakah kekuasaan itu dipakai untuk memperkaya dirinya? Saya lihat enggak. Tiap makan siang, rasa-rasanya makanannya itu enggak pernah berubah,” tuturnya.
Arief mencontohkan kebiasaan makan Bahlil yang sederhana dan tetap setia pada makanan khas Indonesia Timur. “Kalau papeda ya papeda saja, sama ikan kuah kuning,” katanya.
Papeda dengan ikan kuah kuning dikenal sebagai hidangan khas Papua dan Maluku yang sarat makna kebersamaan dan kesederhanaan, mencerminkan akar budaya Timur Indonesia yang lekat dengan kehidupan Bahlil.
Menurut Arief, secara finansial Bahlil tentu mampu menikmati kemewahan, namun memilih tetap hidup apa adanya.“Kalau dia mau makan di Jepang yang paling mahal itu, dia bisa saja. Tapi hidupnya enggak berubah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung momen yang sempat viral ketika Bahlil memilih makan sederhana di luar gedung bersama pengamen. “Dia bilang, ‘Rif, saya enggak mau makan di dalam gedung, kita keluar saja makan mie Aceh.’ Dia masih bisa ngemper kayak kita,” ungkap Arief.
Bagi Arief, sikap tersebut menunjukkan karakter asli Bahlil yang tetap membumi meski kini menjabat Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM.“Setinggi apa pun jabatannya, sampai hari ini saya lihat dia enggak berubah. Tetap rendah hati,” pungkasnya.
