BRIN dan Danantara Percepat Alih Teknologi untuk Industri Strategis Nasional

BRIN dan Danantara Percepat Alih Teknologi untuk Industri Strategis Nasional

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, bertemu dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, di Gedung Barli Halim, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Jumat (28/11). Pertemuan ini memperkuat sinergi riset, inovasi, dan investasi sebagai strategi percepatan alih teknologi dan penguatan industri strategis nasional.

Rosan mengapresiasi kepemimpinan BRIN dalam penguatan ekosistem riset yang terhubung dengan hilirisasi industri. Menurutnya, inovasi merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi modern. “BRIN bukan hanya soal riset, tapi bagaimana inovasi bisa mengakselerasi perekonomian Indonesia melalui investasi berbasis inovasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, Danantara siap menerima tingkat keuntungan lebih rendah apabila investasi memberikan dampak transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja. “Alih teknologi menjadi sangat penting dalam setiap investasi kami,” tegasnya.

Dalam dialog tersebut, Arif memaparkan tiga fokus utama riset BRIN, yaitu riset untuk UMKM dan komunitas, riset untuk perusahaan besar dan BUMN strategis, serta co-development teknologi dengan investor asing untuk mempercepat penguasaan teknologi global.

Ia menekankan percepatan alih teknologi membutuhkan strategi dan sinergi kuat antara BRIN dan Danantara. “Kalau kita tidak bergerak cepat, kita hanya menjadi assembler. BRIN harus memastikan investasi asing menghasilkan lompatan teknologi yang nyata,” ujar Arif.

Ia juga menyoroti program strategis nasional, seperti pengembangan pesawat N219, termasuk varian amfibi, serta fasilitas pengujian kapal, kereta, dan pesawat yang dimiliki BRIN.

Rosan turut memaparkan peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari investasi global, pengembangan teknologi penerbangan melalui rencana masuknya Danantara ke Embraer, hingga kolaborasi R&D dengan perusahaan China dan Korea untuk penguatan ekosistem baterai kendaraan listrik. Sektor industri tekstil, elektronik, dan sepatu juga menjadi perhatian karena berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja, tetapi menghadapi keterbatasan teknologi.

“Industri-industri ini harus kita perbaiki agar lebih kompetitif. Banyak mesin yang sudah tidak modern,” ungkap Rosan.

Dari sisi riset sektor hilir, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, melaporkan penguatan kerja sama riset dengan PT INKA untuk pengembangan kereta semi cepat dan desain gerbong siap produksi massal. Agus juga menyampaikan peluang pembentukan Pusat Riset Kedelai bersama mitra dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menjelaskan rangkaian kolaborasi pertahanan antara BRIN dan BUMN strategis, termasuk N219 Amfibi, lisensi roket R-Han dengan Pindad, kapal MDSV, riset material anti-radar, dan ekstraksi logam tanah jarang.

Menutup pertemuan, Rosan menegaskan komitmen memperkuat kerja sama riset BUMN di bawah Danantara bersama BRIN. “Saya akan bahas di board meeting Danantara agar kerja sama dengan BRIN semakin kuat,” ucapnya.

Arif menambahkan perlunya peningkatan investasi riset oleh sektor industri untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII). “Kita butuh peningkatan expenditure R&D oleh swasta agar lompatan inovasi tercapai,” tegasnya.

Pertemuan BRIN dan Danantara ini menjadi langkah strategis membangun ekosistem riset dan investasi nasional yang kuat, memastikan Indonesia bergerak dari negara pasar menjadi produsen teknologi yang mandiri dan kompetitif.