Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai harga emas dunia berpeluang melanjutkan tren penguatan hingga memasuki tahun 2026. Prospek tersebut didorong oleh berbagai faktor global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga arah kebijakan moneter negara-negara besar.
Harga emas berpeluang menembus level USD 5.500 per troy ons seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
“Nah, memasuki tahun 2026 saya prediksikan untuk harga emas dunia kemungkinan besar itu akan menuju level USD 5.500 per tray ons,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/12). dikutip merdekacom
Menurutnya, meski potensi koreksi tetap ada, penurunan harga diperkirakan terbatas. Koreksi terdekat diproyeksikan hanya menyentuh kisaran USD 4.150 per troy ons, sebelum kembali menguat.
“Seandainya terkoreksi kemungkinan besar hanya di USD 4.150 per tray-ons,” ujarnya.
Hal ini mencerminkan kuatnya sentimen pasar terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Secara rata-rata, harga emas dunia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran USD 4.825 per troy ons.
“Jadi, tahun 2026 kalau dirata-ratakan harga emas dunia itu adalah di USD 4.825 per tray ons,” ujarnya.
Faktor Mempengaruhi Harga Emas
Ibrahim pun menjelaskan terdapat lima faktor yang mempengaruhi kenaikan harga emas dunia. Pertama, masalah geopolitik. Kedua, masalah perpolitikan di Amerika Serikat.
“Nah apa sih yang membuat harga emas dunia logam mulia naik kemudian rupiah melemah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia logam mulia dan mata uang rupiah. Yang pertama adalah masalah geopolitik. Yang kedua masalah perpolitikan di Amerika Serikat,” ujarnya.
Kemudian yang ketiga adalah kebijakan Bank Sentral Amerika. Faktor keempat, adalah perang dagang. Faktor kelima adalah suplai dan demand.
Dampak ke Pasar Domestik
Kenaikan harga emas dunia berpotensi berdampak langsung ke pasar domestik, terutama pada harga logam mulia berbasis rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan terjadi pada 2026 turut memperkuat kenaikan harga emas di dalam negeri.
Kondisi ini membuka peluang keuntungan bagi investor emas fisik, namun juga meningkatkan risiko bagi pembeli baru yang masuk di harga tinggi. Perhitungan biaya tambahan seperti jasa, sertifikat, dan spread harga menjadi faktor penting dalam menentukan potensi keuntungan bersih.
“Kemudian untuk rupiah sendiri karena berhubungan dengan logam mulia di tahun 2026 kemungkinan besar range-nya ya range untuk rupiah sendiri Rp 16.400 sampai di Rp 17.500. Kenapa sampai melebar di Rp17.500, karena kondisi ekonomi global yang tidak baik-baik saja berpengaruh terhadap pelemahan mata uang rupiah,” katanya.
