Pengamat peternakan, Rochadi Tawaf, menilai rencana Danantara menanamkan investasi Rp20 triliun untuk pembangunan peternakan ayam baru sebaiknya dialihkan ke revitalisasi peternakan ayam yang sudah ada. Menurutnya, membangun peternakan dari nol memiliki risiko tinggi dan membutuhkan waktu lama.
Rochadi menekankan bahwa banyak peternakan rakyat saat ini amburadul, lahan disewakan pihak asing, dan infrastruktur tidak dimanfaatkan optimal. Ia menyarankan agar investasi diarahkan untuk memperbaiki peternakan rakyat, kemudian produk hasilnya disalurkan ke industri hilir seperti pabrik nugget besar, sehingga produksi lokal terserap lebih efektif.
Sebelumnya, pemerintah melalui Danantara mengumumkan rencana investasi untuk membangun peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi mulai Januari 2026, dengan tujuan mendukung program makan bergizi gratis (MBG) serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Langkah revitalisasi diyakini lebih realistis untuk meningkatkan kemandirian pangan dan membantu peternak lokal bersaing dengan perusahaan swasta besar di pasar ayam dan telur.
Dikutip dari antaranews.com
