Menko Polhukam Bantah Pemerintah Lambat: Kita Masif Bergerak

Menko Polhukam Bantah Pemerintah Lambat: Kita Masif Bergerak

Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk hadir dengan cepat dan terkoordinasi dalam penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dia membantah narasi yang beredar di masyarakat mengenai lambatnya respons pemerintah.

“Di lapangan, aparat negara justru telah bergerak secara masif sejak fase awal tanggap darurat. Sinergi nasional tetap solid, Kemenko Polkam memimpin langsung rapat terbatas lintas sektor yang dihadiri oleh Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN),” ungkap Djamari dalam keterangan persnya pada Selasa (9/12/2025).

Djamari menjelaskan bahwa rapat terbatas tersebut menegaskan bahwa negara hadir secara penuh melalui kekuatan pertahanan, keamanan, dan intelijen dalam satu komando terkoordinasi.

“Dalam situasi darurat seperti ini, yang dibutuhkan adalah kecepatan, ketepatan, dan soliditas yang terkolaborasi. TNI, Polri, dan BIN bergerak dalam satu napas untuk memastikan keselamatan rakyat, distribusi bantuan, serta stabilitas keamanan tetap terjaga,” tegasnya.

Ia merinci bahwa dalam aspek operasi kemanusiaan, TNI telah mengerahkan sekitar 30.864 personel dari seluruh matra (AD, AL, dan AU) ke daerah yang terdampak. TNI juga telah mengerahkan berbagai aset besar, termasuk 18 pesawat, 36 helikopter, dan 16 kapal laut, termasuk kapal angkut (LCU), untuk mempercepat distribusi logistik dan proses evakuasi korban, terutama di wilayah-wilayah yang terisolasi.

“Dalam tahap awal, TNI Angkatan Darat mengerahkan lebih dari 21.700 personel untuk membuka akses jalan yang terputus, mengevakuasi korban, mendirikan dapur umum, membangun shelter darurat, hingga mendukung layanan kesehatan lapangan,” tambahnya.

Bantuan telah dikirim ke wilayah yang terkena bencana

Selain itu, Djamari mengungkapkan bahwa sebanyak 1.559 ton bantuan logistik telah berhasil dikirim ke zona darurat, sebagian besar melalui operasi airdrop ke daerah yang sulit dijangkau oleh jalur darat. Di sisi lain, Polri juga telah mengerahkan ratusan personel dalam operasi kemanusiaan yang terintegrasi, dengan 497 personel yang langsung diterjunkan ke wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar.

“Selain itu, 219 personel tambahan dikirim ke Sumatra Utara, terdiri dari unsur Brimob, tim medis, K-9, dan DVI, untuk mempercepat proses evakuasi, identifikasi korban, serta pengamanan lokasi terdampak,” jelasnya.

“Dalam mendukung distribusi bantuan, Polri juga mengerahkan dua pesawat angkut yang membawa sekitar 3,8 ton logistik, terdiri atas makanan siap saji, obat-obatan, genset, dan perangkat WiFi portabel untuk menjaga konektivitas komunikasi di daerah bencana,” imbuh Djamari.

Djamari menambahkan bahwa pada saat yang sama, Polri juga diperintahkan untuk memperbaiki akses jalan yang terputus dan menjaga stabilitas keamanan guna mencegah potensi gangguan sosial serta tindak kriminal di tengah situasi krisis. Selain itu, di balik operasi lapangan tersebut, BIN menjalankan fungsi intelijen untuk memastikan bahwa seluruh bantuan yang dikirimkan tepat sasaran dan aman dalam distribusinya.

Melalui jaringan intelijen di daerah Aceh, Sumut, dan Sumbar, “BIN melakukan monitoring ancaman, pemetaan risiko lanjutan, serta pengawalan distribusi bantuan, sekaligus menyuplai data dan rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat. BIN juga memainkan peran penting dalam peringatan dini terhadap potensi bencana susulan maupun kerawanan sosial, sehingga keputusan taktis dan kebijakan nasional dapat diambil berbasis informasi intelijen yang akurat,” beber Djamari.

Kerja sama antara TNI, Polri, dan BIN

Djamari menyatakan keyakinannya bahwa kolaborasi antara TNI, Polri, dan BIN tidak hanya berfokus pada penanganan masalah secara langsung, tetapi juga mencakup upaya pemulihan jangka menengah hingga stabilisasi setelah terjadinya bencana. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi negatif yang beredar di media sosial, serta pentingnya menjaga solidaritas nasional dan kepercayaan terhadap upaya kemanusiaan yang dilakukan secara terkoordinasi di lapangan.

“Soliditas ini adalah wajah negara di saat rakyat sedang dalam kondisi paling rentan. Kami memastikan bahwa bantuan tidak hanya cepat sampai, tetapi juga tepat sasaran, aman, dan berkelanjutan,” tegasnya.

sumber merdeka