Pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebanyak delapan kali sepanjang tahun ini. Target dana yang dihimpun berada pada kisaran Rp150 triliun hingga Rp170 triliun.
Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menjelaskan bahwa pemerintah tidak menetapkan target pasti dalam penerbitan SBN ritel. Pemerintah biasanya menggunakan rentang angka sebagai acuan.
“Tahun lalu targetnya Rp150 triliun sampai Rp170 triliun dan realisasinya Rp153 triliun. Tahun ini juga kami sampaikan di kisaran yang sama,” ujar Novi di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin.
Adapun rencana jadwal penawaran SBN ritel sepanjang 2026 meliputi:
- ORI029: 26 Januari–19 Februari 2026
- SR024: 6 Maret–15 April 2026
- ST016: 8 Mei–3 Juni 2026
- ORI030: 6–30 Juli 2026
- SR025: 21 Agustus–16 September 2026
- SWR007: 4 September–21 Oktober 2026
- SBR015: 28 September–22 Oktober 2026
- ST017: 6 November–2 Desember 2026
Novi menyampaikan bahwa jadwal tersebut bersifat tentatif. Meski demikian, jadwal tersebut tetap dapat menjadi acuan bagi investor untuk mempersiapkan dana. Menurutnya, jika terjadi perubahan, biasanya hanya bergeser satu hingga dua hari.
Ia juga memastikan bahwa penawaran SBN ritel tersedia hampir sepanjang tahun, dengan jeda antar penerbitan yang relatif singkat, sekitar satu hingga dua minggu. Pola ini memberi ruang bagi investor untuk mengatur pembelian secara bertahap sesuai kondisi likuiditas.
Selain membeli di pasar perdana, investor juga dapat bertransaksi di pasar sekunder untuk seri SBN ritel yang bersifat tradable, seperti ORI dan Sukuk Ritel. Dengan begitu, investor tetap memiliki kesempatan berinvestasi meskipun melewatkan masa penawaran awal.
“Kalau tidak sempat ikut di pasar perdana, investor masih bisa membeli di pasar sekunder,” tutup Novi.
Sumber AntaraNews.com
