Tekanan Global Meningkat, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.725

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.725

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (2/1). Mata uang Garuda turun 38 poin atau 0,23 persen ke level Rp16.725 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipicu faktor eksternal yang masih dibayangi ketidakpastian global. Meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan dunia menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di Eropa Timur, konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas pasca-Tahun Baru. Aksi saling serang dilaporkan menyasar warga sipil, meski upaya diplomasi terus dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah juga meningkat. Ancaman perang skala penuh yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kian nyata. Situasi ini diperburuk oleh kebijakan sanksi baru AS terhadap sektor energi Venezuela, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati risalah pertemuan The Federal Reserve (The Fed) pada Desember. Para pejabat bank sentral AS masih berbeda pandangan terkait arah kebijakan suku bunga ke depan. Sebagian memilih menahan suku bunga, sementara lainnya membuka peluang pemangkasan lanjutan jika inflasi terus melandai.

“Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa akan tepat untuk mempertahankan kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi terus menurun dari waktu ke waktu,” ujar Ibrahim di Jakarta, Jumat (2/1).

Di dalam negeri, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Sektor manufaktur menutup tahun 2025 dengan kinerja positif. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember berada di level 51,2.

Meski melambat dibandingkan November yang mencapai 53,3, PMI tersebut menandakan sektor manufaktur masih berada di fase ekspansi selama lima bulan berturut-turut. Peningkatan penjualan didorong oleh peluncuran produk baru dan bertambahnya basis pelanggan, meskipun pesanan ekspor masih mengalami tekanan.

Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada awal pekan depan masih akan berlangsung fluktuatif. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS.

Sumber MediaIndonesia.com