Berawal dari perjalanan lapangan yang panjang dan perjumpaan langsung dengan anak-anak muda di Papua, jurnalis muda asal Majalengka, Adhim Mugni Mubaroq, menuangkan pengalamannya ke dalam sebuah buku berjudul Pemberdayaan Ekonomi Pemuda: Menggapai Potensi Tanpa Batas. Buku tersebut kini resmi diluncurkan dan telah beredar di pasaran.
Lebih dari sekadar buku kebijakan, karya setebal lebih dari 150 halaman ini merekam kisah manusia: pemuda-pemuda Papua yang perlahan menemukan kepercayaan diri, keterampilan, dan kemandirian ekonomi melalui pendampingan yang konsisten.
Cerita serupa juga hadir dari Aceh, sebagai wilayah replikasi model pembinaan yang sama. Selama lebih dari dua tahun, Adhim mengikuti aktivitas Papua Youth Creative Hub (PYCH) di Jayapura.
Ia menyaksikan langsung bagaimana anak-anak muda yang sebelumnya ragu pada masa depan, mulai berani bermimpi dan bekerja secara kolektif.
Kisah-kisah personal para pemuda itulah yang menjadi napas utama buku ini. “Papua tidak butuh banyak konsep. Papua butuh pendampingan yang mau hidup, bekerja, dan tumbuh bersama mereka,” tulis Adhim, menggambarkan pelajaran paling penting dari perjalanannya.
Buku ini juga menyoroti peran para pendamping di lapangan, salah satunya Made Kartikajaya, yang saat itu menjabat Deputi IV Bidang Ekonomi Intelijen Badan Intelijen Negara (BIN).
Dalam narasi Adhim, Made digambarkan bukan sekadar pejabat, melainkan sosok yang hadir, mendengar, dan bekerja bersama pemuda Papua.
Ketua Umum PYCH, Simon Tabuni, memberikan kesaksian tentang dampak pendekatan tersebut. Ia menilai pendampingan yang dilakukan memberi rasa dihargai dan kepercayaan diri bagi pemuda Papua. “Kami belajar bukan hanya soal keterampilan, tapi juga tentang dihargai sebagai manusia,” ujarnya.
Peluncuran buku ini akan dirangkai dalam Seminar Bedah Buku yang digelar Keluarga Mahasiswa Majalengka (KEMKA) Jakarta pada Minggu, 21 Desember 2025, di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bagi panitia, acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang berbagi cerita dan pengalaman. Ketua Pelaksana seminar, Aldi Muhamad Rifaldi, mengatakan buku ini penting karena menghadirkan wajah pembangunan dari sudut pandang pemuda.
“Ini bukan hanya cerita tentang Papua, tapi tentang harapan dan kerja keras anak-anak muda di daerah,” katanya.
Sejumlah tokoh nasional turut memberikan testimoni dalam buku ini, di antaranya mantan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, Prof. Rhenald Kasali, eks Menpora Ario Bimo Nandito Ariotedjo, hingga anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia.
Mereka menilai buku ini sebagai pengingat bahwa pembangunan akan bermakna ketika menyentuh manusia dan memberi ruang bagi pemuda untuk tumbuh.
Lewat buku ini, Adhim tidak hanya menuliskan cerita Papua, tetapi juga menghadirkan potret harapan—bahwa dengan pendampingan yang tulus, pemuda dari daerah mana pun dapat menjadi penggerak perubahan bagi Indonesia.
