JAKARTA – Putra daerah asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, drg. Gelar Subhakti Ramdhani, Sp.RKG, membawa inovasi pembelajaran kedokteran gigi forensik Indonesia ke forum internasional di Lisbon, Portugal.
Gelar yang merupakan Kepala Departemen Radiologi dan Forensik Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Semarang (FKG Unimus) mempresentasikan program pembelajaran Disaster Victim Identification (DVI) dalam forum International Organization of Forensic Odonto-Stomatology (IOFOS), 11 September 2026.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi FKG Unimus dengan Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri, Jakarta.
Kolaborasi ini berawal dari persoalan keterbatasan pakar odontologi forensik di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi dalam memberikan pembelajaran kedokteran gigi forensik kepada mahasiswa.
“Pakar odontologi forensik atau forensik kedokteran gigi di Indonesia masih sangat kekurangan. Di FKG Unimus sendiri belum memiliki dosen dengan kualifikasi dokter gigi spesialis odontologi forensik,” ujar Gelar, Kamis (17/9/2026).
Padahal, mahasiswa kedokteran gigi, khususnya pada jenjang pendidikan profesi atau koas, dituntut memahami konsep dan pelaksanaan DVI sebagai bagian dari kompetensi kedokteran gigi forensik.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, FKG Unimus menggandeng RS Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri sebagai mitra pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada akhir Agustus 2025 dengan melibatkan sekitar 40 mahasiswa pendidikan profesi FKG Unimus.
Para mahasiswa dibawa dari Semarang ke Jakarta untuk mengikuti pembelajaran selama tiga hari. Mereka tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga mengikuti praktik serta berdiskusi langsung dengan para pakar.
Salah satu pengampu materi adalah Kombes Pol drg. Ahmad Fauzi, M.M., GDFO., Sp.OF., Subsp.IOF (K), yang merupakan pakar odontologi forensik dengan pengalaman kegiatan di dalam maupun luar negeri.
Menurut Gelar, metode pembelajaran tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung penerapan ilmu kedokteran gigi forensik, khususnya dalam proses DVI. Menariknya, keberhasilan program tersebut tidak hanya diukur berdasarkan testimoni mahasiswa.
FKG Unimus juga melakukan evaluasi menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan mahasiswa sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan dan pengetahuan mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran DVI.
Program kolaborasi tersebut kemudian mendapat kesempatan untuk dipresentasikan dalam forum internasional tiga tahunan IOFOS di Lisbon, Portugal.
Pada 11 September 2026, Gelar tampil mewakili Indonesia untuk mempresentasikan pengalaman FKG Unimus dalam mengembangkan pembelajaran DVI melalui kolaborasi dengan Pusdokkes Polri.
Kesempatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Indonesia untuk berbagi pengalaman mengenai model kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi kepolisian dalam memperkuat kompetensi kedokteran gigi forensik.
Program yang awalnya lahir dari kebutuhan pembelajaran mahasiswa di Semarang itu akhirnya dibawa ke panggung internasional di Lisbon, Portugal.
