Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyoroti tumpukan sampah yang menggunung di sepanjang Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kondisi tersebut dipicu oleh penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang sudah mengalami kelebihan kapasitas.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU, Dewi Chomistriana, menjelaskan TPA Cipeucang hanya mampu menampung sekitar 400 ton sampah per hari. Sementara itu, produksi sampah di Tangsel mencapai minimal 800 ton dan kini telah menembus lebih dari 1.000 ton per hari.
“TPA Cipeucang memang sudah tidak bisa lagi menampung sampah dari Tangerang Selatan,” ujar Dewi di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Rencana Pembangunan TPA Baru
Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup sementara TPA Cipeucang sambil menyiapkan pembangunan sejumlah landfill atau TPA baru, termasuk penataan sistem terasering.
Menurut Dewi, sampah seharusnya dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun, fasilitas tersebut belum mampu menampung lonjakan volume sampah harian.
“Saat ini Pemkot Tangsel sedang mempercepat penambahan landfill baru dan penataan terasering,” jelasnya.
Kaji Risiko dan Opsi Waste to Energy
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU juga tengah membantu pengkajian indeks risiko TPA Cipeucang. Langkah ini dilakukan setelah Kementerian Lingkungan Hidup meminta agar TPA tersebut ditutup.
Selain itu, Kota Tangsel diusulkan masuk ke dalam program waste to energy yang dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Melalui skema ini, sampah diolah menjadi energi listrik lewat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
“Tangerang Selatan masih dalam tahap evaluasi, termasuk penentuan lokasi proyek waste to energy,” pungkas Dewi.
Sumber Merdeka.com
